Monday, January 14, 2008

Malam Kuberitahu



Malam ini ia datang lagi.Tiba-tiba
Menyusup melalui pori-pori. Aku tidak menyadarinya
Memenuhi langit kamarku dengan bayang gelap gurita
Mencengkram dan enggan melepasku hingga pagi tiba

Aku dapat merasakannya
Ia merengkuh jiwaku dan menyandar dipundakku
Seperti ditengah kerumunan, membicarakan sesuatu yang belum akan pernah selesai
Aku yakin, aku tersenyum saat itu. Ia begitu meyakinkan
Seperti masa depan, seperti insting-hasrat freudian

Malam, tidakkah kau berlangsung lama?
Tunggulah kita sesaat saja, walau bintang terhapus surya
Biar ku tahu, kau atau dia yang fatamorgana

Malam, bergegaslah berganti rupa
Tinggalkan bekas yang tak mungkin dipertunjukkan
Pada hatiku yang gemerincing dikerubuti semut hitam
Meski tak sempat ku tulis janji pertemuan
Ia telah pergi melalui cendela, meski pintu selalu ku buka

Thursday, January 10, 2008

Agama Dan Bangsa Indonesia


Beberapa bulan terakhir, bangsa ini, selain heboh karena bencana alam, disibukkan juga oleh huru-hara MUI, Menteri Agama, kepolisan dan organisasi kegamaan mengenai “aliran sesat” atau yang disebut Pak Menteri Maftuh Basyuni “penyimpangan yang menodai agama” (Kompas, 04/01/08). Dunia juga dikejutkan dengan tewasnya Benazir Bhutto, 54 tahun, pemimpin partai opisisi utama Pakistan, pada 27 Desember 2007 lalu. Beberapa fakta yang saya temui seperti terpecah-pecah hingga akhirnya mengerucut pada pernyataan Rocky Gerungan, “Tahukah negara dimana alamat ‘Surga’ dan berapa nomor telepon ‘Neraka’? berhakkah negara menentukan ‘akhirat’ seseorang?” (Memastikan Kedaulatan Rakyat, Kompas 03/01/08). Dan kata kunci yang bisa saya cerap adalah: Negara dan Agama.

Tema ini tak habis diperbincang sepanjang sejarah peradaban “toe” dan “krasi”, serta telah meminta ribuan korban nyawa namun hanya menghasilkan dua kesimpulan yang selalu bertentangan: Negara-agama vs sekular. Di negara kita, perdebatan ini dimulai sejak upaya pembangunan dasar negara dan Pancasila. Melalui perebutan ideologi – dalam perdebatan Piagam Jakarta – hingga perebutan kekuasaan melalui serangkaian pemberontakan, dan konon terorisme, yang hingga kini belum tampak akan usai.

Desakan teokrasi yang sangat kuat muncul dari Islam, meskipun sejarah dunia juga pernah mencatat upaya fundamentalisme Kristen, Hindu dan Yahudi dalam tuntutan serupa meski dalam kadar yang berbeda-beda. Padahal dalam Islam, setahu saya, tidak ada anjuran yang mengharuskan pemeluknya membangun daulah ilamiyah. Dan harus diakui, hingga kini konsep “negara islam” masih menjadi perdebatan dan belum jelas. Masalah konsep saja, pertanyaan-pertanyaan seperti yang diajukan Gus Dur, apakah yang dimaksud dengan pandangan Islam tentang negara, hanya nilai-nilai dasar yang melandasi berdirinya sebuah negara ataukah norma-norma formal yang mengatur kehidupan di dalamnya atau kelembagaan yang ditegakkan di dalamnya atau gabungan ketiga-tiganya? juga belum menemukan jawaban. Bila kini ada beberapa negara yang berdasarkan agama itu semata kesepakatan sosial dan penegasan identitas bangsanya seperti yang dilakukan Iran dan Pakistan.

Bangsa ini sendiri telah memilih pluralisme “Binneka Tunggal Ika” dan demokrasi, serta penganut “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang sekular, dalam pengertian bukan negara berdasarkan agama. Dipilihnya demokrasi dan pijakan sekular bukan pula upaya menafikan agama dan moralitas. Pilihan ini muncul dari pandangan bahwa masalah ketuhanan merupakan esensi yang amat suci dan tinggi. Hingga tidak pantas kesucian Tuhan (agama) harus turun dan dikotori oleh pertengkaran politik negara yang penuh dengan intrik dan obsesi berlebih terhadap kekuasaan. Bagaimanapun kebenaran Tuhan lebih tinggi dari kebenaran negara. Kepercayaan terhadap Tuhan bukan suatu yang bisa dirasionalkan, hingga dapat dibenarsalahkan dengan mudah seperti matematika. Kepercayaan terhadap Tuhan merupakan pergulatan hati, jiwa serta perbuatan yang didasari olehnya. Demi kesucian dan kemurniannya, negara tidak berhak turut campur, apalagi sampai memaksanya.

Kewajiban negara adalah menjamin ketertiban hukum, dimana yang menjadi acuan adalah tindakan warga negara yang secara eksplisit melawan hukum, bukan karena keyakinannya. Negara memiliki tugas menjamin kesejahteraan rakyat dan mengayomi keyakinan yang dipilih warganegara agar tidak dicederai yang lainnya. Kebebasan terhadap suatu kerpercayaan ini dijamin dalam Undang-Undang Dasar tanpa menyebutkan golongan tertentu dilarang. Toh Negara juga tidak bisa menentukan nantinya mana warga negara yang masuk surga dan mana yang terjerembab dalam neraka. Latar belakang “pemberangusan” penganut Ahmadiyah dan “Aliran-Aliran Sesat” melalui kebijakan politik fatwa maupun pengerahan massa adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan ulang, karena dengan upaya itu saya tidak melihat agama dan Tuhan semakin dimuliakan. Sebaliknya, yang tampak adalah suatu sinyal yang semakin nyata: Pemaksaan moralitas golongan berkuasa terhadap minoritas. Agama semakin dipertontonkan sebagai kekerasan, ekslusivitas dan alat dominasi.

Demokrasi dan agama memang cenderung kontradiktif, dalam beberpa hal. Agama selalu memiliki obsesi kesempurnaan absolut sebagai pengejewantahan Tuhan Serbamaha. Kebenarannya mutlak dan karena itu cenderung menyalahkan golongan diluarnya. Agama cenderung terjebak pada kemasalaluan dimana sumber referensi ajaran dan acuan ideal terbenam disana. Dipihak lain demokrasi menuntut ketidaksempurnaan, perbedaan pendapat, pembauran identitas dan kerelaan bertoleransi. Namun bukan berarti keduanya akan selalu dipertentangkan. Agama juga bisa tampil lebih inklusif sebagai ajaran yang memuliakan manusia dan menjunjung tinggi perdamaian dan mengupayakan kesejahteraan sosial. Yang terkhir inilah yang dikehendaki Bangsa Indonesia, sebagai mana tertera dalam UUD 45. Sekali lagi, pilihan ini bukan untuk meminggirkan agama. Demokrasi adalah harapan yang membawa keadilian bagi tumbuh-kembangnya keyakinan yang dipeluk secara berdampingan dengan keyakinan-keyakinan lain. Sejarah bangsa ini mencatat, Kementrian Agama dibentuk oleh Kabinet Sjahrir yang dikenal tokoh sekuler, bukan oleh Soekarno yang lebih concern terhadap pemikiran agama.

Karena itu, konsistensi penguasa terhadap ini perlu mendapat perhatian. Kejadian pemberangusan suatu kepercayaan hanya karena perbedaan penafisran dan keyakinan perlu dipertanyakan ulang. Karena hal itu justru akan mencederai hak asasi warga negara. Lagi pula “Allah (Tuhan) Itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruh atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya. Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir” (Tuhan Tidak Perlu Dibela, Abdurrahman Wahid: 1999).

Thursday, January 3, 2008

Air

Di penghujung tahun 2007, bumi Indonesia masih ingin menuntaskan geliatnya mencari keseimbangan. Musim hujan yang selama ini dianggap musim penuh berkah berubah menjadi musim penuh musibah. Lautan, daratan, udara dan langit kita dipenuhi air. Bumi, memang, sekitar 70 % permukaannya adalah air. Namun menjelang perubahan tahun Masehi, perkiraan saya, dominasi air meningkat hingga 80-90 %. Di daerah subtropis, salju menutupi daratan menciptakan suasana romantik-mencekam yang mengundang Santa Klaus datang. Sedang di daerah tropis air bandang melimpah ruah bosan mengaliri jalur konvensional (laut dan sungai) lalu memutuskan berjalan-jalan disepanjang trotor, bersilaturahmi ke rumah-rumah warga tanpa undangan. Pulau Jawa, hampir setengah permukaannya ditutup air dan membuat hampir seluruh warganya sibuk menyalami tamu tak diundang ini berharap mereka segera pulang ke kandang. Entah salju, air hujan, air tanah, air laut maupun air mata, semua menggenang. Kemana mereka harus pulang?



Air, begitu dominan dalam kehidupan alam semesta. Selain perannya, keberadaannya yang merlimpah memang tidak mungkin dinafikan. Komposisi dasar badan manusia dan hewan, 70 % diantaranya adalah air. Bahkan otak kita, 75 %-nya merupakan air. Elemen ini merupakan salah satu yang terpenting selain udara, tanah dan Api ( ref: Avatar, tha legend of Aang). Sifatnya yang dingin, lembut, terserap dan kuat membuat air selalu menjadi penyeimbang kehidupan alam. Konon, air merupakan ekosistem yang paling banyak ditinggali orgenisme dibandingkan ekositem lainnya seperti daratan. Dan air merupakan salah satu elemen yang paling banyak menimbulkan bencana bagi manusia. Jumlah nyawa yang telah direnggutnya juga membelalakkan mata. Tak tercatat sudah berbagai korban akibat bajir, longsor, tsunami, tenggelam/karam, dan hujan badai. Rasanya semakin hari, air semakin mempersempit ruang gerak kita. Saya dan Anda tinggal menunggu giliran untuk disapa olehnya.



Kabar terbaru datang dari Tawangmanu & Karanganyar Jawa Tengah. Air marah karena daerah resapan (rumah air) dan alirannya dirusak manusia. Maka tanpa diskusi panjang air mengambil langkah penyeimbangan sendiri. Membuat jalur resapan dengan menyusupi perbukitan yang keras. Karena air yang datang begitu deras dan overload (air hujan bertambah banyak disebabkan salju-salju antartika mencair tak sabar mamaksa ikut jalan-jalan bersama awan menjadi hujan) saluran itu akhirnya pecah tak muat menampung keluarga air yang semakin banyak. Tanah bukit menjadi luber menghanyutkan lumpur ke rumah manusia. Dalam kacamata manusia, air telah menyebabkan longsor, membawa serta 37 korban jiwa. Itu berita yang kita baca. Lalu kita panik menyalahkan siapa.



Saat seperti ini kita memerlukan pemahaman baru tentang air dan alam seperti yang dihadirkan Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water. Air dan alam semesta, munurut Emoto, mengandung Hado, energi nyata yang sulit dilihat. Energi ini bisa positif maupun negatif yang bisa dengan mudah dipindahkan. Bayangkan sebuah gelombang emosi, suasana hati seseorang dapat ditularkan kepada orang-orang disekitarnya. Kemarahan, keceriaan maupun kedukaan kita bisa merambat mempengaruhi suasana dimana kita berada. Begitu juga Hado yang dimiliki air. Emoto mengajukan tesis, perlakuan dan komunikasi yang buruk terhadap air (alam) akan direspon dengan perlakuan yang buruk pula. Seperti memiliki gelombang jiwa, air yang diteliti oleh Emoto, dapat merespon pesan-pesan verbal manusia. Hal ini dibuktikan melalui bentuk-bentuk kristal air yang berbeda-beda yang terbentuk sesuai pesan yang disampaikan. Penelitian Emoto membuktikan bahwa kata-kata positif seperti “Cinta”, “terima kasih”, “pengampunan”, “kebahagiaan” dan sebagainya mendapat respon bentuk-bentuk kristal yang lebih menawan dibandingkan kata-kata “kamu bodoh” “penderitaan”, “tidak Berguna” dan kata-kat negatif lainnya. Bentuk-bentuk kristal, secara ilmiah menentukan kualitas airnya secara keseluruhan.



Penelitian dilakuakan dengan mengambil sampel air dari berbagai tempat dan benua untuk difoto menggunakan microscope. Air itu ia beri label tulisan-tulisan kata-kata (positif & negatif) diatas. Ia juga mengambil sampel air yang telah diberi doa serta dua gelas air, yang satu mendapat sapaan positif setiap hari, sedang yang lain diabaikan. Hasilnya seperti yang diduga. Ia juga banyak melakukan riset dengan berbagai kalangan dengan berbagai macam kegiatan eksperimen. Hasilnya semakin menguatkan tesisnya bahwa, “air berubah kualitasnya berdasarkan informasi yang dibawanya”.


Hasil penelitian ini memberi sinyal kepada kita yang selama ini begitu pakem dengan pandangan alam sebagai elemen anorganik yang mati serta terpisah dengan kehidupan sosial manusia. Batu (tanah), udara, tumbuhan, hewan dan alam semesta memiliki kesatuan dengan kita, berupaya saling memahami satu sama lain sebagai penghuni jagad raya. Hasil penelitian Hado air oleh alumnus Universitas Yokohama, fakultas humanioa dan sain, jurusan hubungan International ini selanjutnya banyak didedikasikan pada bidang kesehatan. Ia banyak melakukan pemrosesan Hado dengan mesin hado yang ditemukannya untuk memahami hado tubuh manusia yang 70%-nya adalah air.

Jadi mulailah berperilaku baik dengan alam kita......


Data Teknis
Judul : The True Power of Water
Penulis : Masaru Emoto
Penerbit : MQ Publishing
Halaman : 192 hlm
Cetak : 2006
Harga : check sendiri, soalnya gw minjem.

Friday, December 28, 2007

Reaza

Pertemuan kita adalah papasan
Di sebuah titik, pemberhentian rasa

Kau jinjing rokmu dan menatap hujan
Bergegas pergi menyisir jalan

Aku segera pulang, membawa kantong penuh penyesalan
Menjilat ludah kesia-siaan
Kemana kau gerangan?

Ingat Rumah

Seekor kepik berputar
hinggap diujung daun padi yang tertunduk bergoyang-goyang
Memilih hanya yang hijau
Di dalam genangan air bergelombang penuh bayang


Kemarin malam purnama menampakkan seluruh warnanya
Bintang menyambut dengan kedipan
Udara berbaur dengan embun
Tempat diamana napas layak dihembuskan


Semut hitam, merah dan coklat berkejaran dengan cacing berbalut tanah
Lumpur gembur berlapis kotoran hewan mamalia
Memberi jalan hidup bagi yang bertelur dan memamah
Mengurai sebuah nama yang disebut Desa


Anyaman bambu di topang kayu dari pekarangan
Ditanami tikar dipagari jagung dan rerumputan
Air kendi dan sebakul nasi jagung berkarip garam
Hamparan jerami dan joglo buatan dimana kemalasan ditumpahkan


Bangkai orok berlindung runcing dan berterang damar
Berpintu salam dan kesopanan
Berteman persaudaraan dan kesahajaan
Bersemayam sejuta damai cerita moyang

Aku ingin pulang

Terlihat


Biarakan aku menusukmu dengan belati hadiah ayah-ibu
Biarkan kau membiru, menyapa maut yang selalu terburu-buru
Dalam lipatan wajah ramahmu, kau selipkan berjuta senyawa benci
Terakhir kau menyingkapku, dalam telanjang memilukan
Saat itu, tak kuduga mentari menjadi terang
Hingga aku melihatmu dalam tatapan berang
Sewajarnya kau bilang, “ sudah saatnya untuk membalas”.
Kau tertawa, aku pucat
Puas, kau menatap penuh tanya
baru tahu, sorot kebencian
pada terang, pada malam penuh bintang
Sebelum semua usai, aku nyata sadar
hidup sebatas tawa dan dendam

Wednesday, December 12, 2007

Hujan berKuasa

Kini aku harus menyebut rasa ini apa? Saat semua terus mengiang tanpa tahu cara menuntaskannya.

Kita pernah menggelar tikar di bawah langit, dan berikrar bahwa kita adalah berkah bintang Kejora. Memaknai semua sebagai restu leluhur dan Yang kuasa. Gunung pun kita daki. Menaklukkan malam dan pagi hanya untuk menegaskan bahwa kita bisa bersama selama sisa masa. Kita menetaskan keringat bersama agar kita yakin bahwa matahari juga telah memberi restunya.


Bukankah kita memulai baiat ditengah jembatan dibawah kubah rumah Tuhan yang utama. Saat senja Monas yang begitu anggun dengan cahaya buatan menggiring kita berlari sambil bergandeng tangan. Kita pun naik kereta. Itu pengalaman pertamamu meluncur diatas rel meski tempatmu tinggal hanya sedempal dari stasiun berada sejak puluhan waktu silam. Kau terharu, aku bahagia. Kau merayu, aku hanya bisa bilang iya.


Sepeti orang habis melahirkan, pipimu merona merah. Kecapaian tetapi sangat bahagia. Meski seperti kehabisan tenaga, kau terus mengumbar senyum seolah tak bisa menyembunyikan bahagia. Sepanjang Jakarta-Bandung kau tak kuasa, menyandarkan kepala dibahuku. aku tahu pasti, kau bahagia.


Jalan tak selalu lurus, lika-liku adalah miliknya. Pernah kita coba untuk saling murka, tetapi kita tak pernah membara, menghangus yang telah ada. Tak sulit untuk tahu bahwa kita sejiwa.


Musim berganti, hujan datang tanpa diundang.......


Aku bisa bilang apa bila hujan turun deras tanpa tahu mengapa. Kau menyebut ”kuasa Tuhan adalah jalannya”. Kau pun tidak dapat mengerti apalagi bertahan. Kau linglung, ”Tidak perlu penjelasan bila kini air yang menggenang telah menyapu yang ada. Tak tersisa. Tidak pernah dipaksa ini alamiah, semua hilang, hanya debu akan kembali ada saat mentari tiba. Akan sejuk kembali saat hujan lain datang dan pergi sesuka hatinya”. Datar kau berkata, sambil menyimpul senyum dan air mata. Entah perasaan apa.


Aku tak bisa bertanya bahkan menatapmu tepat saat semuanya menjadi berbeda. Kau bilang ”kau membuatku tak nyaman”. Lanjutmu, ”Aku bisa bilang apa. Karena hujan telah menyapu semuanya. Tak tersisa. Carilah musim lain dengan suhu penuh warna, mungkin kau tak akan tenggelam, terlarut, dan tak pernah ingat bahwa kita titisan Kejora.”