Thursday, February 7, 2008

Sudahlah



Tak ada air mata lagi untukmu, yang kesekiankalinya meliuk memutari pagar teralis besi. Kukagumi awal pertemuan kita, yang terang diguyur keringat. Namun waktu selalu mengungkap apa yang perlu diketahui, bila sudah masa. Menumpahkan semua alasan agar kita tidak lupa, akan siapa kamu, siapa kita dulu kala.


Sungguh aku tidak menduga bahwa nila begitu nyata. Penciptaanya hanya setetes, mengotori warna susu di belanga. Tak perlu kau lupa, bahwa Tahu yang memilih jalannya. Jangan turut dalam gegap siapa yang kuat dan nyata. Bukan kompetisi, karena kau tidak semata piala, tidak pula cukup mulia. Adam-Hawa bukan serpihan, tapi doa yang digariskan.


Tak ingatkah bahwa aku pernah mempercayai ramalan kakekmu dan isyarat istikharoh? Lupa bahwa semua tanda bisa ditafsirkan dengan mata buta. Dengan banyak macam tergantung udara, tergantung siapa. Hanya saja kala itu memang kita dimabuk cinta. Semua aroma adalah bunga. Hingga pegangan tanganmu semakin melorot diujung jamari tak terkira. Terpenggal duri Duryudhana. Paripurna!

Wednesday, January 30, 2008

Reading Soeharto



Soeharto,dalam Pidatonya di depan DPR-GR Menjelang Hari Kemerdekaan Tahun 1967:



“Kedaulatan Rakjat dituang dengan semangat dan diintegerasikan dengan sila-sila lainnja dari pantjasila. Pelaksanaan hak-hak demokrasi harus selalu disertai dengan rasa tanggung-djawab terhadap Tuhan Jang Maha Kuasa sesuai dengan kejakinan masing-masing agama; harus mendjundjung tinggi nilai-nilai kemanuasiaan sesuai dengan nilai dan kemuliaan manusia; ia djuga harus mendjamin persatuan Bangsa jang kokoh, dan mesti digunakan untuk mentjiptakan Keadilan Sosial. Demokrasi Pantjasila timbul dari hubungan kekeluargaan dan gotong-royong.”





Dalam pidatonya yang lain di hadapan Sidang MPRS tanggal 21 Maret 1968:



“Kita mestilah menjadari, bahwa kemerosotan ekonomi jang telah menimpa kita sesungguhnja sangat serius. Pembangunan tidak mengenal keadjaiban. Djalan menudju pembangunan tidaklah litjin dan mudah; sebaliknja ia menuntut pekerdjaan yang tak mengenal lelah, ia menuntut dana dan usaha, dan lebih-lebih lagi, pengrobanan”.

























Dicukil dari: Soeharto, Dari Pradjurit sampai presiden. Terjemahan dari The Smiling General, President Soeharto of Indonesia”. written by O. G. Roeder, PT Gunung Agung, 1969


Monday, January 14, 2008

Malam Kuberitahu



Malam ini ia datang lagi.Tiba-tiba
Menyusup melalui pori-pori. Aku tidak menyadarinya
Memenuhi langit kamarku dengan bayang gelap gurita
Mencengkram dan enggan melepasku hingga pagi tiba

Aku dapat merasakannya
Ia merengkuh jiwaku dan menyandar dipundakku
Seperti ditengah kerumunan, membicarakan sesuatu yang belum akan pernah selesai
Aku yakin, aku tersenyum saat itu. Ia begitu meyakinkan
Seperti masa depan, seperti insting-hasrat freudian

Malam, tidakkah kau berlangsung lama?
Tunggulah kita sesaat saja, walau bintang terhapus surya
Biar ku tahu, kau atau dia yang fatamorgana

Malam, bergegaslah berganti rupa
Tinggalkan bekas yang tak mungkin dipertunjukkan
Pada hatiku yang gemerincing dikerubuti semut hitam
Meski tak sempat ku tulis janji pertemuan
Ia telah pergi melalui cendela, meski pintu selalu ku buka

Thursday, January 10, 2008

Agama Dan Bangsa Indonesia


Beberapa bulan terakhir, bangsa ini, selain heboh karena bencana alam, disibukkan juga oleh huru-hara MUI, Menteri Agama, kepolisan dan organisasi kegamaan mengenai “aliran sesat” atau yang disebut Pak Menteri Maftuh Basyuni “penyimpangan yang menodai agama” (Kompas, 04/01/08). Dunia juga dikejutkan dengan tewasnya Benazir Bhutto, 54 tahun, pemimpin partai opisisi utama Pakistan, pada 27 Desember 2007 lalu. Beberapa fakta yang saya temui seperti terpecah-pecah hingga akhirnya mengerucut pada pernyataan Rocky Gerungan, “Tahukah negara dimana alamat ‘Surga’ dan berapa nomor telepon ‘Neraka’? berhakkah negara menentukan ‘akhirat’ seseorang?” (Memastikan Kedaulatan Rakyat, Kompas 03/01/08). Dan kata kunci yang bisa saya cerap adalah: Negara dan Agama.

Tema ini tak habis diperbincang sepanjang sejarah peradaban “toe” dan “krasi”, serta telah meminta ribuan korban nyawa namun hanya menghasilkan dua kesimpulan yang selalu bertentangan: Negara-agama vs sekular. Di negara kita, perdebatan ini dimulai sejak upaya pembangunan dasar negara dan Pancasila. Melalui perebutan ideologi – dalam perdebatan Piagam Jakarta – hingga perebutan kekuasaan melalui serangkaian pemberontakan, dan konon terorisme, yang hingga kini belum tampak akan usai.

Desakan teokrasi yang sangat kuat muncul dari Islam, meskipun sejarah dunia juga pernah mencatat upaya fundamentalisme Kristen, Hindu dan Yahudi dalam tuntutan serupa meski dalam kadar yang berbeda-beda. Padahal dalam Islam, setahu saya, tidak ada anjuran yang mengharuskan pemeluknya membangun daulah ilamiyah. Dan harus diakui, hingga kini konsep “negara islam” masih menjadi perdebatan dan belum jelas. Masalah konsep saja, pertanyaan-pertanyaan seperti yang diajukan Gus Dur, apakah yang dimaksud dengan pandangan Islam tentang negara, hanya nilai-nilai dasar yang melandasi berdirinya sebuah negara ataukah norma-norma formal yang mengatur kehidupan di dalamnya atau kelembagaan yang ditegakkan di dalamnya atau gabungan ketiga-tiganya? juga belum menemukan jawaban. Bila kini ada beberapa negara yang berdasarkan agama itu semata kesepakatan sosial dan penegasan identitas bangsanya seperti yang dilakukan Iran dan Pakistan.

Bangsa ini sendiri telah memilih pluralisme “Binneka Tunggal Ika” dan demokrasi, serta penganut “Ketuhanan Yang Maha Esa” yang sekular, dalam pengertian bukan negara berdasarkan agama. Dipilihnya demokrasi dan pijakan sekular bukan pula upaya menafikan agama dan moralitas. Pilihan ini muncul dari pandangan bahwa masalah ketuhanan merupakan esensi yang amat suci dan tinggi. Hingga tidak pantas kesucian Tuhan (agama) harus turun dan dikotori oleh pertengkaran politik negara yang penuh dengan intrik dan obsesi berlebih terhadap kekuasaan. Bagaimanapun kebenaran Tuhan lebih tinggi dari kebenaran negara. Kepercayaan terhadap Tuhan bukan suatu yang bisa dirasionalkan, hingga dapat dibenarsalahkan dengan mudah seperti matematika. Kepercayaan terhadap Tuhan merupakan pergulatan hati, jiwa serta perbuatan yang didasari olehnya. Demi kesucian dan kemurniannya, negara tidak berhak turut campur, apalagi sampai memaksanya.

Kewajiban negara adalah menjamin ketertiban hukum, dimana yang menjadi acuan adalah tindakan warga negara yang secara eksplisit melawan hukum, bukan karena keyakinannya. Negara memiliki tugas menjamin kesejahteraan rakyat dan mengayomi keyakinan yang dipilih warganegara agar tidak dicederai yang lainnya. Kebebasan terhadap suatu kerpercayaan ini dijamin dalam Undang-Undang Dasar tanpa menyebutkan golongan tertentu dilarang. Toh Negara juga tidak bisa menentukan nantinya mana warga negara yang masuk surga dan mana yang terjerembab dalam neraka. Latar belakang “pemberangusan” penganut Ahmadiyah dan “Aliran-Aliran Sesat” melalui kebijakan politik fatwa maupun pengerahan massa adalah sesuatu yang perlu dipertanyakan ulang, karena dengan upaya itu saya tidak melihat agama dan Tuhan semakin dimuliakan. Sebaliknya, yang tampak adalah suatu sinyal yang semakin nyata: Pemaksaan moralitas golongan berkuasa terhadap minoritas. Agama semakin dipertontonkan sebagai kekerasan, ekslusivitas dan alat dominasi.

Demokrasi dan agama memang cenderung kontradiktif, dalam beberpa hal. Agama selalu memiliki obsesi kesempurnaan absolut sebagai pengejewantahan Tuhan Serbamaha. Kebenarannya mutlak dan karena itu cenderung menyalahkan golongan diluarnya. Agama cenderung terjebak pada kemasalaluan dimana sumber referensi ajaran dan acuan ideal terbenam disana. Dipihak lain demokrasi menuntut ketidaksempurnaan, perbedaan pendapat, pembauran identitas dan kerelaan bertoleransi. Namun bukan berarti keduanya akan selalu dipertentangkan. Agama juga bisa tampil lebih inklusif sebagai ajaran yang memuliakan manusia dan menjunjung tinggi perdamaian dan mengupayakan kesejahteraan sosial. Yang terkhir inilah yang dikehendaki Bangsa Indonesia, sebagai mana tertera dalam UUD 45. Sekali lagi, pilihan ini bukan untuk meminggirkan agama. Demokrasi adalah harapan yang membawa keadilian bagi tumbuh-kembangnya keyakinan yang dipeluk secara berdampingan dengan keyakinan-keyakinan lain. Sejarah bangsa ini mencatat, Kementrian Agama dibentuk oleh Kabinet Sjahrir yang dikenal tokoh sekuler, bukan oleh Soekarno yang lebih concern terhadap pemikiran agama.

Karena itu, konsistensi penguasa terhadap ini perlu mendapat perhatian. Kejadian pemberangusan suatu kepercayaan hanya karena perbedaan penafisran dan keyakinan perlu dipertanyakan ulang. Karena hal itu justru akan mencederai hak asasi warga negara. Lagi pula “Allah (Tuhan) Itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruh atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya. Al-Hujwiri mengatakan: bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir” (Tuhan Tidak Perlu Dibela, Abdurrahman Wahid: 1999).

Thursday, January 3, 2008

Air

Di penghujung tahun 2007, bumi Indonesia masih ingin menuntaskan geliatnya mencari keseimbangan. Musim hujan yang selama ini dianggap musim penuh berkah berubah menjadi musim penuh musibah. Lautan, daratan, udara dan langit kita dipenuhi air. Bumi, memang, sekitar 70 % permukaannya adalah air. Namun menjelang perubahan tahun Masehi, perkiraan saya, dominasi air meningkat hingga 80-90 %. Di daerah subtropis, salju menutupi daratan menciptakan suasana romantik-mencekam yang mengundang Santa Klaus datang. Sedang di daerah tropis air bandang melimpah ruah bosan mengaliri jalur konvensional (laut dan sungai) lalu memutuskan berjalan-jalan disepanjang trotor, bersilaturahmi ke rumah-rumah warga tanpa undangan. Pulau Jawa, hampir setengah permukaannya ditutup air dan membuat hampir seluruh warganya sibuk menyalami tamu tak diundang ini berharap mereka segera pulang ke kandang. Entah salju, air hujan, air tanah, air laut maupun air mata, semua menggenang. Kemana mereka harus pulang?



Air, begitu dominan dalam kehidupan alam semesta. Selain perannya, keberadaannya yang merlimpah memang tidak mungkin dinafikan. Komposisi dasar badan manusia dan hewan, 70 % diantaranya adalah air. Bahkan otak kita, 75 %-nya merupakan air. Elemen ini merupakan salah satu yang terpenting selain udara, tanah dan Api ( ref: Avatar, tha legend of Aang). Sifatnya yang dingin, lembut, terserap dan kuat membuat air selalu menjadi penyeimbang kehidupan alam. Konon, air merupakan ekosistem yang paling banyak ditinggali orgenisme dibandingkan ekositem lainnya seperti daratan. Dan air merupakan salah satu elemen yang paling banyak menimbulkan bencana bagi manusia. Jumlah nyawa yang telah direnggutnya juga membelalakkan mata. Tak tercatat sudah berbagai korban akibat bajir, longsor, tsunami, tenggelam/karam, dan hujan badai. Rasanya semakin hari, air semakin mempersempit ruang gerak kita. Saya dan Anda tinggal menunggu giliran untuk disapa olehnya.



Kabar terbaru datang dari Tawangmanu & Karanganyar Jawa Tengah. Air marah karena daerah resapan (rumah air) dan alirannya dirusak manusia. Maka tanpa diskusi panjang air mengambil langkah penyeimbangan sendiri. Membuat jalur resapan dengan menyusupi perbukitan yang keras. Karena air yang datang begitu deras dan overload (air hujan bertambah banyak disebabkan salju-salju antartika mencair tak sabar mamaksa ikut jalan-jalan bersama awan menjadi hujan) saluran itu akhirnya pecah tak muat menampung keluarga air yang semakin banyak. Tanah bukit menjadi luber menghanyutkan lumpur ke rumah manusia. Dalam kacamata manusia, air telah menyebabkan longsor, membawa serta 37 korban jiwa. Itu berita yang kita baca. Lalu kita panik menyalahkan siapa.



Saat seperti ini kita memerlukan pemahaman baru tentang air dan alam seperti yang dihadirkan Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water. Air dan alam semesta, munurut Emoto, mengandung Hado, energi nyata yang sulit dilihat. Energi ini bisa positif maupun negatif yang bisa dengan mudah dipindahkan. Bayangkan sebuah gelombang emosi, suasana hati seseorang dapat ditularkan kepada orang-orang disekitarnya. Kemarahan, keceriaan maupun kedukaan kita bisa merambat mempengaruhi suasana dimana kita berada. Begitu juga Hado yang dimiliki air. Emoto mengajukan tesis, perlakuan dan komunikasi yang buruk terhadap air (alam) akan direspon dengan perlakuan yang buruk pula. Seperti memiliki gelombang jiwa, air yang diteliti oleh Emoto, dapat merespon pesan-pesan verbal manusia. Hal ini dibuktikan melalui bentuk-bentuk kristal air yang berbeda-beda yang terbentuk sesuai pesan yang disampaikan. Penelitian Emoto membuktikan bahwa kata-kata positif seperti “Cinta”, “terima kasih”, “pengampunan”, “kebahagiaan” dan sebagainya mendapat respon bentuk-bentuk kristal yang lebih menawan dibandingkan kata-kata “kamu bodoh” “penderitaan”, “tidak Berguna” dan kata-kat negatif lainnya. Bentuk-bentuk kristal, secara ilmiah menentukan kualitas airnya secara keseluruhan.



Penelitian dilakuakan dengan mengambil sampel air dari berbagai tempat dan benua untuk difoto menggunakan microscope. Air itu ia beri label tulisan-tulisan kata-kata (positif & negatif) diatas. Ia juga mengambil sampel air yang telah diberi doa serta dua gelas air, yang satu mendapat sapaan positif setiap hari, sedang yang lain diabaikan. Hasilnya seperti yang diduga. Ia juga banyak melakukan riset dengan berbagai kalangan dengan berbagai macam kegiatan eksperimen. Hasilnya semakin menguatkan tesisnya bahwa, “air berubah kualitasnya berdasarkan informasi yang dibawanya”.


Hasil penelitian ini memberi sinyal kepada kita yang selama ini begitu pakem dengan pandangan alam sebagai elemen anorganik yang mati serta terpisah dengan kehidupan sosial manusia. Batu (tanah), udara, tumbuhan, hewan dan alam semesta memiliki kesatuan dengan kita, berupaya saling memahami satu sama lain sebagai penghuni jagad raya. Hasil penelitian Hado air oleh alumnus Universitas Yokohama, fakultas humanioa dan sain, jurusan hubungan International ini selanjutnya banyak didedikasikan pada bidang kesehatan. Ia banyak melakukan pemrosesan Hado dengan mesin hado yang ditemukannya untuk memahami hado tubuh manusia yang 70%-nya adalah air.

Jadi mulailah berperilaku baik dengan alam kita......


Data Teknis
Judul : The True Power of Water
Penulis : Masaru Emoto
Penerbit : MQ Publishing
Halaman : 192 hlm
Cetak : 2006
Harga : check sendiri, soalnya gw minjem.

Friday, December 28, 2007

Reaza

Pertemuan kita adalah papasan
Di sebuah titik, pemberhentian rasa

Kau jinjing rokmu dan menatap hujan
Bergegas pergi menyisir jalan

Aku segera pulang, membawa kantong penuh penyesalan
Menjilat ludah kesia-siaan
Kemana kau gerangan?

Ingat Rumah

Seekor kepik berputar
hinggap diujung daun padi yang tertunduk bergoyang-goyang
Memilih hanya yang hijau
Di dalam genangan air bergelombang penuh bayang


Kemarin malam purnama menampakkan seluruh warnanya
Bintang menyambut dengan kedipan
Udara berbaur dengan embun
Tempat diamana napas layak dihembuskan


Semut hitam, merah dan coklat berkejaran dengan cacing berbalut tanah
Lumpur gembur berlapis kotoran hewan mamalia
Memberi jalan hidup bagi yang bertelur dan memamah
Mengurai sebuah nama yang disebut Desa


Anyaman bambu di topang kayu dari pekarangan
Ditanami tikar dipagari jagung dan rerumputan
Air kendi dan sebakul nasi jagung berkarip garam
Hamparan jerami dan joglo buatan dimana kemalasan ditumpahkan


Bangkai orok berlindung runcing dan berterang damar
Berpintu salam dan kesopanan
Berteman persaudaraan dan kesahajaan
Bersemayam sejuta damai cerita moyang

Aku ingin pulang

Terlihat


Biarakan aku menusukmu dengan belati hadiah ayah-ibu
Biarkan kau membiru, menyapa maut yang selalu terburu-buru
Dalam lipatan wajah ramahmu, kau selipkan berjuta senyawa benci
Terakhir kau menyingkapku, dalam telanjang memilukan
Saat itu, tak kuduga mentari menjadi terang
Hingga aku melihatmu dalam tatapan berang
Sewajarnya kau bilang, “ sudah saatnya untuk membalas”.
Kau tertawa, aku pucat
Puas, kau menatap penuh tanya
baru tahu, sorot kebencian
pada terang, pada malam penuh bintang
Sebelum semua usai, aku nyata sadar
hidup sebatas tawa dan dendam

Wednesday, December 12, 2007

Hujan berKuasa

Kini aku harus menyebut rasa ini apa? Saat semua terus mengiang tanpa tahu cara menuntaskannya.

Kita pernah menggelar tikar di bawah langit, dan berikrar bahwa kita adalah berkah bintang Kejora. Memaknai semua sebagai restu leluhur dan Yang kuasa. Gunung pun kita daki. Menaklukkan malam dan pagi hanya untuk menegaskan bahwa kita bisa bersama selama sisa masa. Kita menetaskan keringat bersama agar kita yakin bahwa matahari juga telah memberi restunya.


Bukankah kita memulai baiat ditengah jembatan dibawah kubah rumah Tuhan yang utama. Saat senja Monas yang begitu anggun dengan cahaya buatan menggiring kita berlari sambil bergandeng tangan. Kita pun naik kereta. Itu pengalaman pertamamu meluncur diatas rel meski tempatmu tinggal hanya sedempal dari stasiun berada sejak puluhan waktu silam. Kau terharu, aku bahagia. Kau merayu, aku hanya bisa bilang iya.


Sepeti orang habis melahirkan, pipimu merona merah. Kecapaian tetapi sangat bahagia. Meski seperti kehabisan tenaga, kau terus mengumbar senyum seolah tak bisa menyembunyikan bahagia. Sepanjang Jakarta-Bandung kau tak kuasa, menyandarkan kepala dibahuku. aku tahu pasti, kau bahagia.


Jalan tak selalu lurus, lika-liku adalah miliknya. Pernah kita coba untuk saling murka, tetapi kita tak pernah membara, menghangus yang telah ada. Tak sulit untuk tahu bahwa kita sejiwa.


Musim berganti, hujan datang tanpa diundang.......


Aku bisa bilang apa bila hujan turun deras tanpa tahu mengapa. Kau menyebut ”kuasa Tuhan adalah jalannya”. Kau pun tidak dapat mengerti apalagi bertahan. Kau linglung, ”Tidak perlu penjelasan bila kini air yang menggenang telah menyapu yang ada. Tak tersisa. Tidak pernah dipaksa ini alamiah, semua hilang, hanya debu akan kembali ada saat mentari tiba. Akan sejuk kembali saat hujan lain datang dan pergi sesuka hatinya”. Datar kau berkata, sambil menyimpul senyum dan air mata. Entah perasaan apa.


Aku tak bisa bertanya bahkan menatapmu tepat saat semuanya menjadi berbeda. Kau bilang ”kau membuatku tak nyaman”. Lanjutmu, ”Aku bisa bilang apa. Karena hujan telah menyapu semuanya. Tak tersisa. Carilah musim lain dengan suhu penuh warna, mungkin kau tak akan tenggelam, terlarut, dan tak pernah ingat bahwa kita titisan Kejora.”

Hilang HP

Curhatan ini sudah pasti akan berisi umpatan bagi Jakarta lagi...akan gw beri Judul, ”Gw Kehilangan HP(lg)


Hari ini gw mulai dengan optimis, karen gw dapat panggilan kerja di Tabloid Bintang Indonesia sebagai kandidat reporter. Berangkat ke tempat wawancara juga tidak perlu bersusah payah, karena gw dapat tumpangan gratis ke arah kuningan dimana kantor Bintang Indonesia itu berada. Tepatnya di jalan Dr. Satrio Kav. 3-5, pas didepannya ITC Kuningan. Gw malah datang 1 jam lebih cepat dari jadwal yang tentukan. Pukul 8.00, gw udah nangkring di lobby kantor ditemani dua satpam yang masih rada ngantuk.


Prosesi interview berjalan lancar. Gak perlu gw ceritakan semua detilnya. Yang pasti, keluar dari ruang tes gw masih memiliki sedikit optimisme kalo gw masih punya kans untuk diterima kerja di sana. Gw ga terlalu muluk-muluk, menyadari bahwa saingan gw adalah wartawan-wartawan beneran.


Keluar dari kawasan kav 3-5, gw bingung mencari angkutan pulang. Matahari tepat berada di atas ubun-ubun. Keringat mulai terasa merembet-rembeti baju-dalam. Kebayanglah Jakarta disaat adzan duhur. Gw clingak-clinguk sebentar, ternyata gelagat gw ditangkap oleh seorang tukang ojek. Ia menghampiri, menawarkan jasa, dan gw ga bisa menolak. Mintalah gw untuk diantarkan ke halte busway terdekat. Ia bersedia, dan gw upahi dia dengan 5000 rupiah. Transaksi selesai. Saat ini gw telah berada dalam busway yang berdesakan - membuat gw bergelantungan - namun untungnya ber-AC.


Kata petugasnya, jalur ini – entah koridor berapa – mengarah ke Ragunan. Gw teringat pesan Sonny mengenai jalur transportasi terpraktis menuju pulang (ke arah Lb. Bulus). Jadi gw teruskan perjalanan via busway hingga halte Departemen Pertanian. Gw turun. Tetapi rasa penasaran gw muncul. Belum sempat gw keluar dari koridor halte, kaki gw sudah memutar haluan. Gw putuskan melanjutakan perjalanan hingga halte Ragunan. Gw menumpang busway berikutnya. Gw belum tahu daerah ragunan. Hanya pernah mendengar dari Tukul dan teman-teman. Jadi sekalian jalan-jalan. Sampai di Ragunan clingak-clinguk sebentar, makan siang, ngobrol dengan asongan dari Garut lalu melanjutkan perjalanan pulang.


Untuk sampai di Lb. Bulus, gw harus naik dua kali angkutan. Dari terminal Ragunan naik angkot A 15 turun di Perempatan Dpt. Pertanian. Pas di bawah lampu merah si supir nurunin gw, ga peduli kendaraan dibelakang secara serentak mencet klakson. Gw cuman bisa ngebatin, ” Ada yang salah ni...”. gw bayar 1000 perak, lalu cepet-cepet nyeberang jalan. Gw berteduh di bawah pohon rindang, di samping tanaman-tanaman hias berjejer didisplay untuk dijual. Sekitar 10 menit berikutnya angkutan yang kan membawa gw kw Lb Bulus datang. Berwarna hijau kombinasi putih, berbentuk persegi panjang, body reot, bersupir batak, bertuliskan ”P 20” di kaca depan dan ”Mitromini” di sampingnya. Inilah kranda jenazah bagi HP gw. Yang menghapus kenormalan waktu setengah hari yang telah dilalui dan yang akan datang.


Gw naik dengan perasaan biasa. Sangat biasa. Datar. Gw juga tidak memiliki firasat apapun. Bermimpi buruk juga tidak. Hanya semalam sempat dibangunkan oleh denging nyamuk-nyamuk nakal yang menyelinap masuk ke dalam kelambu tidur gw. Bisa dilihat, gw naik dengan kaki kanan dan turun dengan kaki kiri sesuai prosedur dan teknik naik angkutan umum yang telah ditentukan. Sangat normal buka?! Gw ambil posisi di belakang-kanan. Di depan kursi paling belakang, dekat cendela sebelah kanan. Posisi ini yang paling longgar, karena di posisi lain manusia-manusia telah begelantungan berdesakan sambil semua menyeka keringat. Situasi ini membuat gw tidak punya inisiatif berlebih untuk memperhatikan sekitar. Termasuk 3 orang bermuka batak yang berusaha mengapit gw. Gw mersakan keanehan dengan cara 3 orang ini bergelegat dalam kendaraan umum. Tetapi sekali lagi, gw rada ga fokus, jadi ketidakwajaran yang gw tangkap tidak sampai menyentuh pada perasaan curiga pada orang-orang ini. Jadi gw cuek sibuk menyeka keringat dan berangan-angan sampai rumah secepatnya.


Jalur trayek Dept. Pertanian – Lb Bulus lumayan lancar. Tensi emosi masih sangat terkontrol. Kurang dari 15 menit, mitromini yang gw tumpangi sudah melintasi Poin Square, Perempatan Lb Bulus. Terbaca sekilas sebuah spanduk bertuliskan ”Giant”. Gw jadi ingat, voucher belanja sebesar 100 ribu perak. Gw check dalam tas. Ternyata gw bawa. Gw putuskan jalan-jalan ke Giant sebentar. ” Kiri bang!”. bus berhenti. Gw turun. Dengan kaki kiri lebih dahulu.


Semua terasa normal. Sampai kaki menyentuh aspal dan melangkah beberapa meter. Gw rogoh kantong celana sebelah kiri. Karena seingat gw, hp terkhir kali gw simpan di situ. Tidak gw dapati barang keras bersegi-panjang. Gw rogoh sekali lagi hingga kesudut-sudut terpencil. Tetap tidak gw temukan. Gw tidak patah semangat, jadi gw periksa kantong sebelah kanan. Gw periksa dua kali juga Tetap tidak ada. Lalu gw periksa kantong kiri sekali lagi. Masih tetap nihil. Gw mulai panik. Kini semua kantong celana gw rogoh. Lagi-lagi nihil. Gw masih tidak puas, jadi kantong-kantong tas juga gw periksa. Gw keluarkan semua isinya, gw periksa sampai beberpa kali. TETAP NIHIL. Disitu gw baru sadar kesimpulan perjalanan hari ini, ” HP gw dicopet!”. Flashback slide-slide pertemuan gw dengan 3 orang batak aneh di metromini muncul seketika. Mengalir deras. Gw cuman tertunduk. Sebal. Berasa hambar.


Lalu gw bergegas pulang karena Mood udah ga jelas (Meski gw masih sempat membelanjakan voucher belanja Giant seharga 50 ribu, untuk obat kecewa). Bukan nilai HP-nya yang gw sesali. Tetapi nomor kontak temen-temen dan saudara-saudara yang gw kumpulin bertahun-tahun lenyap sudah. Teman masa kecil teman sekolah (SD – SMA), saudara-saudara yang sempat hilang, semua ada dalam phone book itu. Sekitar 400 nomor telephon yang selalu menemani saya sepanjnag waktu kini dicuri orang. Gw marah banget sama orang-orang bermuka batak itu. Gw kecewa. Gw hancur. Remuk hiks hiks hiks...rasanya mirip putus cinta.


Ini info buat temen-temen untuk lebih berhati-hati di kendaraan umum. Terutama angkutan di Jakarta. Ini yang kedua kali gw kehilangan HP di Jakarta. Yang pertama saya kehilangan di Senen. Waktu itu saya ditodong (dipalak). Sial Jakarta... untuk yang kedua ini bukan ditodong, tetapi murni pencopetan berencana. Biasanya melibatkan 3 orang atau lebih. Mangsa biasanya diapit dan didesak-desak. Sangat terncana dan terlatih, hingga si korban tidak merasa curiga sedikitpun. Jadi teman-temen harus lebih hati...cukup gw ajalah yang ngerasain.Dasar jakarta!


NB; Untuk sementara, kl mo menghubungi gw ke tlp rumah aja (021) 7422888


Monday, November 26, 2007

Keringat

(Kamis 22 Nov 07)
Sudah tiga hari Jakarta tidak diguyur hujan. Jakarta kembali membara. Kebutuhan keringat beranjak kembali ke posisi biasa. Posisi dimana penduduknya dituntut dan diharuskan mengkonsumsi paling sedikit 8 gelas air sehari untuk terus bertahan di Jakarta.
Batapa rakusnya Jakarta akan keringat?



Suhu rata-rata Jakarta di musim hujan 25 – 33 Derajat Celsius. Titik maksimal suhunya hanya bisa dikalahkan Surabaya, 25 – 35 Derajat Celsius. tetapi saya yakin, di Surabya dan sekitarnya tidak akan sulit mencari tempat yang rindang-sejuk dengan pohon-pohon hijau. Saya bilang demikian karena saya warga Jawa Timur yang mengetahui geografis Surabaya. Kini kita hitung-hitung Jakarta, berapa banyak lahan hijau yang tersisa di Jakarta. Hawa sejuk? Bisa didapat tetapi tidak dengan hijau-hijau. Kita harus mencari ruang ber- AC, mengahadirkan kesejukan lewat olah freon.
Tampak labih buruk bila kita hitung pula waktu tempuh setiap pengguna jalan menuju tempat kerja. Ini penting karena disnilah biasanya kucuran keringat sangat terasa. Rata-rata penduduk Jakarta mengahabiskan waktu 4 jam (pergi-pulang) di perjalanan. Itu bagi yang sudah bekerja. Bagi yang belum bekerja kemungkinan akan berada di jalan seharian untuk menghantar berkas lamaran ke mana-mana. Kondisi dalam angkutan umum yang berdesak-desakan tentu menambah berlipat-lipat kepanasan dirasakan. Ini hanya faktor suhu yang merupakan salah satu elemen dominan pemeras keringat di Jakarta.



Yup, karena ada faktor lain. Jakarta cukup rakus keringat bukan karena tingginya suhu dan kelembapan saja. Faktor sosial seperti ketegangan, stress, persaingan, kerja overload, inscurity, ketidakpastian, putus asa dan segudang penyakit sosial lainnya yang ditimbulkan Jakarta merupakan faktor penting lain yang mampu memaksa kita berkeringat meskipun berada dalam ruang ber-AC.


Nilai keringat kemudian agak buram. Benarkah keringat masih menjadi simbol kerja keras? Tukul Arwana sering melempar katakritaslisasi keringat”. Tetapi di Jakarta, dengan motor diparkir, lalu maen gaplek di gardu pinggir jalan saja sudah keringetan. ”Betul sudah keringatan, tatpi tidak mengkristal”, bagitu mungkin jawaban Tukul.


Makna dan nilai keringat, saya yakin, tidak hilang. Tetapi Jakarta rasanya semakin tidak menghargai keringat. Entah nilai-tukar-keringatnya yang turun atau daya-tawar-Jakartanya yang semakin menguat. Yang jelas, semakin hari Jakarta semakin membutuhkan volume keringat yang makin besar untuk memuaskannya. Perkiraan saya, Nilai keringat memang tidak hilang, tetapi daya tukarnya menurun terhadap satuan hidup-di-jakarta. Bila tahun-tahun sebelumnya satu gelas keringat sudah cukup untuk meraih daya-tawar-Jakarta guna ditukar dengan bahan makanan untuk 1 hari hidup-di-jakarta, kini level itu turun dan dibutuhkan dua sampai tiga gelas keringat untuk nilai tukar yang sama. Jakarta terus menekan hingga inflasi nilai keringat melaju kencang.


Jaman kini di Jakarta, Karyawan bekerja 8 jam sehari, 40 jam seminggu, 120 jam sebulan bukanlah catatan yang mengesankan. Ini baru derajad minimal yang memang sewajarnya kudu dipenuhi. Seorang suami berangkat kerja saat anaknya belum bangun tidur dan pulang saat anaknya sudah terlelap adalah rutinitas sangat biasa. Istrinya pun tidak akan bertanya, komplain, atau marah tetapi dengan senang hati memakluminya. Kosep waktu pagi-siang-malam tidak lagi bermakna apa-apa. Satu-dua jam bukan waktu yang lama, seperti uang 100 perak yang selalu dikembalikan dengan sebiji permen Relaxa. Konsep utamanya beralih dari kaharmonian alam, ketanangan, kedamian menjadi karir, target, gaji, naik pangkat dan PHK. Tentu uang adalah penyebabnya. Dan semua memerlukan semakin banyak keringat.

Selasa 20 Nov

Siang ini saya hanya perlu kopi. Kalau boleh yang sangat dingin. Kondisi saya memerlukan penyegar macam itu. Saya mengantuk, sedikit pusing dan kegerahan. Untuk mnyantap makanan berat rasanya tidak mungkin, apa lagi yang sedikit pedas. Beberapa hari ini perut say sedikit panas, tanda-tanda isi perut mengencer. Lagian, saya sudah kenyang berat. Bila ditambah lagi isinya bukannya perut yang bertambah kenyang, mata saya juga semakin tidak bisa menahan kantuk

Kopi dingin, sesatu yang rasanya paradoks. Tetapi semakin diperlukan untuk membantu mengalihkan tekanan-tekanan hidup yang makin berat di jaman ini. Terlebih untuk sebuah kehidupan di jakarta. Pagi ini Kompas memampang sebuah potret yang membuat saya bepikir sekali lagi untuk keluar dan jalan-jalan siang ini. Sebuah foto yang dengan jelas mengatakan " Jangan keluar bila tidak perlu. Dan bila diterjemahkan lebih lanjut akan berbunyi, "jangan pernah menginjakkan kaki di Jakarta". Foto Kompas memasukkan kombinasi kekaucauan jalanan khas jakarta dimusim hujan. Ada hujan yang rintik-rintik tetapi sudah lebih dari cukup untuk menggenangkan jalan MH. Thamrin. Mobil dan motor terlihat seperti adonan cendol dalam mangkuk santan dan gula merah. Bukan hanya karena genangan airnya, ketidakteraturan pengguna jalan (motor naik ke trotoar) faktor lain yang mebuat kesemerawutan Jakarta bertambah suram.

Satu lagi, pesan "jangan ke Jakarta" terlihat bila kita membaca gagahnya para pamong yang melakukan operasi yustisi. Rasanya Jakarta bukan seperti bagian Indonesia. Apa memang Jakarta ibu kota Malaysia? Rasanya kita perlu membongkar patung selamat datang.....

Kopi dingin. Bukan kemanisan mutlak yang saya harapkan. Tentu saja manis yang diperoleh setelah melalui kepahitan-kepahitan. Suatu keharusan untuk merasakan pahit sebelum kita mendapatkan manis. Karena memang hakekatnya manispun tak akan ada tanpa pahit. Itulah kopi. Suatu upaya dengan ganjaran yang wajar.

Dingin lebih berati harapan environmental dimana kita dapat merasakan manis benar menjadi manis. Saat manis diringi kegerahan dan bara emosional dan stress, tentu manis tidak berarti apa-apa. Bahkan, manis tidak lagi menjadi rasa, melainkan rutunitas biasa. Manis harus diiringi kesegaran spritual (lingkungan) sehingga kita bisa merasa manis sebagai nikmat kehidupan.

Bisakah Jakarta hadir sedemikian?

Tuesday, November 20, 2007

Kenangan

Kenangan, pada taraf tertentu ia disebut pengetahuan. Di saat lain ia muncul sebagai pengalaman, sejarah, trauma dan dosa. Untuk melamar kerja, kita membutuhkan kenangan. Kini wujudnya rekam jejak, track record atau CV.

Di sudut lain, saya menyebut yang telah terjadi sebagai takdir, sama seperti orang lain meberinya nama nasib.

Demi kenangan kita membuat orang yang mengalaminya sangat penting. Kita memperlakukan dan menempatkan seseorang sebagai Saksi mata, pelaku sejarah, tokoh, pembuat onar, pejuang, pahlawan, penjahat, pembaharu dll hanya karena alasan kenangannya...

sebegitu pentingkah kenangan?
bisakah kita hidup tanpa (mempermasalahakan) kenangan?

Monday, November 12, 2007

Kacang dan Anggur

Waktu sekarang berasa kacang, cepat habis, nikmat namun penuh kolesterol. Tiba-tiba saja kita berlemak, jerawatan, darah tinggi, lalau menyesal kenapa kita telah menghabiskan begitu banyak namun tidak menghasilkan apa-apa. Karena itu, ketika memakan kacang kita perlu sedikit sentuhan anggur, bir, atau minuman beralkohol biar terkandung sedikit daya khayal disetiap butiran waktu yang kita lahap. Keasinan kacang adalah sehari-hari yang membawa kita pada rutinitas datar. Dengan khayalan yang terselip dintara kacang melalui rasa pahit dan bau menyengat anggur, kita terlunjak, terbentur, pusing, muntah, pingsan dan tersadar dengan kebaruan senyum yang mengembang secara berbeda dari waktu ke waktu. Kita hidup.....namun tetap sia-sia. Berwarna tapi tanpa makna. Hahahaha kacang dan anggur.